Artikel ini berisi hasil analisis wawancara tentang perkembangan peserta didik dalam konteks pendidikan. Hal ini ditujukan untuk memahami perkembangan peserta didik, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Selain itu, narasumber telah menjelaskan mengenai pengalaman beliau dalam mengajar. Artikel ini membahas terkait: (1) Apakah ada peserta didik yang perkembangnya berbeda di kelas yang diajarnya? (2) Apa penyebab dari perbedaan perkembagan peserta didik di kelas yang diajarnya? (3) Apa yang sudah ibu lakukan untuk menghadapi perkembangan peserta didik yang berbeda? (4) Bagaimana tanggapan orang tua peserta didik ketika tahu bahwa anaknya memiliki perkembangan yang berbeda? (5) Apa dampak positif dan negative dari perkembangan peserta didik yang berbeda bagi para pengajar?
Hasil analisis ini dilakukan secara mendalam. Hasilnya memiliki kegunaan untuk mengeksplorasi keunggulan dan kelemahan yang ditemukan dalam perkembangan peserta didik. Analisis akan melibatkan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik, seperti pengaruh lingkungan, pendidikan di sekolah, dan peran orang tua. Selain itu, akan dibahas juga langkah-langkah yang telah diambil oleh narasumber untuk menghadapi perbedaan perkembangan tersebut, termasuk perubahan mindset dalam pendekatan pengajaran dan pendidikan. Selain itu, kegunaan lainnya adalah untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang perkembangan peserta didik dalam konteks pendidikan. Dengan menganalisis hasil wawancara ini, diharapkan dapat ditemukan pola-pola atau temuan yang dapat menjadi pedoman dalam mengoptimalkan perkembangan peserta didik di bidang akademik maupun non-akademik.
Narasumber yang dituju adalah Ibu Dian Rosdianingsih atau Bu Rose yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di salah satu sekolah menengah atas negeri di Jakarta. Beliau sudah mengajar selama kurang lebih 27 tahun. Dalam kelas yang sudah diajar olehnya, beliau merasakan bahwa peserta didik yang perkembangannya berbeda di kelas yang diajarnya itu ada. Beliau menjelaskan bahwa ada penyebab, dampak positif dan negatif, serta cara berhadapan dengan perbedaan perkembangan peserta didik di kelas yang diajarnya. Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana tanggapan orang tua peserta didik terhadap perbedaan perkembangan anaknya.
Penyebab Perbedaan Perkembangan Peserta Didik
- Melalui Jalur Masuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
Sebelum adanya sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi, terutama di sekolah negeri, terdapat sekolah-sekolah yang dianggap favorit karena penilaian berdasarkan prestasi akademik. Setiap sekolah memiliki prestasi akademik yang berbeda terkait dengan peserta didik yang masuk berdasarkan nilai mereka. Perkembangan peserta didik ini kemudian meningkat secara signifikan ketika mereka lulus dari kelas 12 dan melanjutkan ke perguruan tinggi melalui Program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), jalur mandiri, atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Namun, setelah perubahan dalam sistem penerimaan peserta didik baru yang tidak lagi menggunakan nilai sebagai faktor penentu, terjadi penurunan perkembangan yang tampak, terutama saat peserta didik masuk ke kelas 10 di sekolah yang tidak lagi mempertimbangkan nilai. Perkembangan tersebut mempengaruhi pengalaman mengajar, di mana terasa berbeda. Meskipun pada masa awal-awal pembelajaran jarak jauh (PJJ), masih terlihat keaktifan dan minat belajar yang ada. Namun terlihat bahwa anak-anak saat ini cenderung lebih memprioritaskan masuk ke sekolah daripada perkembangan akademik mereka.
Lingkungan memainkan peran yang sangat penting dalam memengaruhi peserta didik, seperti dalam kasus ini, pengaruh lingkungan seperti halnya peserta didik melalui jalur zonasi. Para peserta didik yang mengikuti jalur zonasi mengalami pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama sekitar 3 tahun, yang berarti pendidikan di sekolah secara fisik tidak ada karena hanya melalui tugas online, platform seperti Google Meet, dan sejenisnya. Akibatnya, peran guru yang seharusnya tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik menjadi terbatas karena dalam PJJ ini hanya ada pengajaran tanpa melihat secara langsung bagaimana peserta didik berpakaian atau berkomunikasi dengan teman-temannya. Selain itu, guru juga tidak mengetahui bagaimana pendidikan di lingkungan peserta didik, terutama dalam konteks lingkungan orang tua. Menurut pengamatan yang disampaikan, orang tua terkadang hanya memberikan perhatian yang terbatas terhadap anak-anaknya, seperti hanya mengetahui kehadiran anak dalam sesi zoom atau melihat bahwa anak-anaknya dalam keadaan tenang, tanpa memperhatikan dengan lebih mendalam. Hal ini terutama berlaku untuk peserta didik SMA. Namun, ini tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak sedang bermain game atau terpapar hal-hal yang tidak mendidik. Sekarang, dengan adanya pembelajaran tatap muka (PTM), mereka merasakan bahwa moralitas peserta didik kelas 10 telah terpengaruh secara negatif akibat pengaruh PJJ tersebut. Mereka banyak berada di rumah atau menghabiskan waktu secara tidak produktif.
Upaya Yang Sudah Dilakukan Untuk Menghadapi Perkembangan Peserta Didik Yang Berbeda
Dengan mengikuti suatu pelatihan, seperti pelatihan ‘Guru Penggerak’, guru-guru tersebut terbantu untuk mengubah pola pikirnya, di mana guru perlu mencari cara agar siswa mau belajar dengan baik dan tertarik dengan pembelajaran. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, baru menyadari bahwa guru perlu berpikir lebih banyak dan mengubah cara mengajar mereka, terutama dengan adanya Kurikulum Merdeka. Pelatihan tersebut memberikan pendidikan tentang bagaimana bersikap positif dan melihat hal-hal positif pada anak-anak, sehingga mindset guru berubah dari memaksakan kehendak sendiri menjadi mampu mengikuti apa yang diinginkan anak dan bagaimana anak ingin belajar. Namun, ibu juga menyadari bahwa guru perlu memiliki kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan.
Pengalaman menjadi seorang guru selama 27 tahun menyadari bahwa selama bertahun-tahun, guru terkadang memaksakan kehendak pada anak-anaknya, seperti mewajibkan mereka untuk membaca puisi, padahal tidak semua anak memiliki minat dan kemampuan dalam membaca puisi. Namun, sekarang beliau telah mengubah pendekatan pengajarannya dengan memberikan tugas yang sesuai dengan minat dan bakat individu anak-anak. Beliau mengakui bahwa Kurikulum Merdeka mendorong anak-anak untuk menyalurkan bakat mereka.
Sekarang, guru tidak lagi memaksakan kehendak melainkan memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka. Seorang guru membagi tugas-tugas yang berbeda sesuai dengan preferensi belajar anak-anak, seperti melalui pendekatan audiovisual atau kinestetik. Dengan melakukan ini, seorang guru dapat memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk menunjukkan kemampuan mereka secara berbeda-beda. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran beliau terhadap pentingnya menghormati minat dan bakat individu setiap anak dalam proses pembelajaran.
Tes diagnostik adalah alat atau metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan dan kebutuhan belajar siswa secara individual. Tujuan dari tes diagnostik adalah untuk memahami tingkat pemahaman, keterampilan, dan kebutuhan siswa dalam suatu bidang tertentu. Tes ini dapat mencakup berbagai jenis pertanyaan, latihan, atau tugas yang dirancang untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi pelajaran atau kemampuan khusus.
Tes diagnostik dapat membantu guru untuk mengidentifikasi kelemahan atau kebutuhan belajar siswa secara spesifik. Dengan mengetahui informasi ini, guru dapat merencanakan strategi pengajaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa dan memberikan bantuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan prestasi belajar mereka. Tes diagnostik juga dapat membantu guru untuk menyesuaikan kurikulum dan metode pengajaran agar lebih efektif dan relevan bagi setiap siswa. Sebagai contoh, Bu Rose membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdiferensiasi dan menggunakan teknik stop.
Guru seharusnya melakukan tes diagnostik sebelum proses pembelajaran dimulai. Sayangnya, tidak semua guru melaksanakan tes diagnostik tersebut. Guru seharusnya memahami keinginan dan minat anak, serta mampu membentuk dan mengajak mereka agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan. Secara keseluruhan, pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perkembangan intelektual anak dipengaruhi oleh lingkungan, dan guru memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan yang mendorong anak untuk belajar dengan senang dan tertarik.
Dampak Positif Dan Negatif Dari Perkembangan Peserta Didik Yang Berbeda Bagi Para Pengajar
Dampak Positif Dari Perkembangan Peserta Didik Yang Berbeda Bagi Para Pengajar:
- Terdapat pemahaman yang baik tentang perbedaan perkembangan peserta didik berdasarkan usia dan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan mereka.
- Guru memiliki kesadaran untuk beradaptasi dengan perubahan dalam sistem penerimaan peserta didik baru dan memahami bahwa perkembangan peserta didik dapat berbeda ketika penerimaan tidak hanya didasarkan pada nilai akademik.
- Guru telah mengikuti pelatihan dan mengubah pendekatan mengajar dengan memperhatikan minat, bakat, dan gaya belajar individu peserta didik.
- Guru memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua dan melakukan upaya untuk memberikan pemantauan dan umpan balik terkait perkembangan peserta didik.
- Kesadaran tentang dampak negatif dari perbedaan perkembangan peserta didik, seperti kurangnya moral dan ketergantungan pada teknologi, memberikan wawasan penting tentang tantangan yang dihadapi dalam mendidik generasi muda saat ini.
Dampak Negatif Dari Perkembangan Peserta Didik Yang Berbeda Bagi Para Pengajar:
- Ketika anak menyanyikan lagu Indonesia Raya, seharusnya mereka berdiri dengan sikap yang baik, tetapi beberapa anak justru melakukan joget dan mengangkat-angkat kursi. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran dan perilaku yang tidak pantas dari anak tersebut. Tugas guru di sini adalah mengajar anak tentang etika, sopan santun, dan sikap yang benar. Guru perlu melakukan pendekatan yang efektif untuk mengubah perilaku tersebut agar anak dapat mengikuti tata krama yang diharapkan.
- Anak-anak yang masuk melalui penerimaan melalui PMDK atau undangan mengalami penurunan jumlah, karena penilaian guru tidak hanya didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap dan moral. Masalah moral yang disebutkan menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap nilai-nilai yang tidak terpenuhi pada anak-anak saat ini. Hal ini menjadi tugas berat bagi guru untuk membentuk moral siswa, namun peran orang tua dalam mendidik di rumah juga sangat penting. Pendidikan etika, moral, dan religiusitas harus diajarkan dan diterapkan di rumah agar dapat tercermin di lingkungan sekolah.
- Ketergantungan anak-anak pada teknologi, terutama penggunaan ponsel. Anak-anak cenderung menggunakan ponsel untuk chatting, menonton konten tidak pantas, dan menjadi malas membaca buku karena segala sesuatu sudah tersedia di ponsel. Peran guru dalam menghadapi masalah ini melibatkan pendidikan tentang penggunaan teknologi secara bijaksana dan pembiasaan membaca buku. Namun, orang tua juga perlu memainkan peran yang signifikan dalam mengawasi penggunaan ponsel anak, memberikan pembatasan, dan mengajarkan pentingnya literasi.
Tanggapan Orang Tua Peserta Didik Ketika Tahu Bahwa Anaknya Memiliki Perkembangan Yang Berbeda
Saat pengambilan raport, biasamya guru akan menunggu kedatangan orang tua tetapi disayangkan bahwa banyak orang tua yang datang sesempatnya. Hal ini menunjukkan rendahnya partisipasi dan keterlibatan orang tua dalam menghadiri pertemuan dengan guru. Partisipasi aktif orang tua sangat penting dalam menjalin kerjasama yang baik antara sekolah dan rumah.
Selain itu, guru akan membahas perkembangan akademik anak terkait tugas yang tidak dikerjakan. Pemantauan yang dilakukan oleh guru merupakan langkah penting untuk mengidentifikasi masalah atau hambatan belajar siswa. Namun, penting juga bagi orang tua untuk aktif terlibat dalam pemantauan dan memberikan pendidikan di rumah. Kerjasama yang erat antara guru dan orang tua dalam pemantauan dan mendidik anak secara komprehensif akan lebih efektif.
Selain itu, pernyataan juga menekankan peran penting orang tua sebagai pendidik utama anak. Didikan pertama terjadi di rumah dan guru di sekolah lebih mengarahkan atau memoles apa yang telah dididik oleh orang tua. Hal ini menggarisbawahi tanggung jawab orang tua dalam membentuk karakter dan memberikan dasar pendidikan kepada anak sejak dini. Dalam konteks ini, kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kokoh dan holistik bagi anak.
Kerjasama yang baik antara orang tua dan guru memiliki dampak positif pada perkembangan akademik dan non-akademik anak. Melalui kolaborasi yang solid antara sekolah dan rumah, dapat tercipta lingkungan pendidikan yang optimal bagi anak-anak dalam meraih potensi dan kesuksesan mereka.
KESIMPULAN
0 Comments:
Posting Komentar